Fatimah Hidayati

Thursday, November 17, 2011

Demam, batuk, dan pilek pada anak (Kapankah harus diwaspadai)

 

Demam, batuk dan pilek merupakan keluhan tersering orang tua mencari pertolongan ke dokter. Batuk dan pilek (baik influenza maupun common cold) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus. Influenza berbeda dengan common cold. Masing-masing disebabkan oleh jenis virus yang berbeda. Infuenza disebabkan oleh virus Influenzae, sedangkan common cold disebabkan oleh Rhinovirus. Karena kedua jenis penyakit bergejala ILI (influenza like illness), maka sulit untuk membedakan berdasarkan gejala saja.

1             batuk               Pilek

Secara umum, influenza memiliki gejala lebih berat dibanding common cold, dan gejala seperti demam, nyeri, ngilu di sendi tubuh, kelelahan berlebih, dirasakan lebih menonjol. Sakit kepala seringkali bersifat berat, dengan sakit yang dirasakan di sekeliling dan di belakang mata. Pada awalnya gejala saluran pernafasan relatif ringan, berupa rasa gatal di tenggorokan, rasa panas di dada, batuk kering dan hidung berair. Kemudian batuk akan menghebat dan berdahak. Kadang-kadang bisa terjadi mual dan muntah. Common cold biasanya lebih ringan dibandingkan influenza. Anak dengan common cold lebih mungkin untuk memiliki hidung meler atau tersumbat dan bersin-bersin. Setelah 3-5 hari sebagian besar gejala akan menghilang dengan segera dan demam biasanya mereda, meskipun kadang demam berlangsung sampai 5 hari. Penyakit flu umumnya akan sembuh sendiri setelah 3-5 hari, tentu jika dibarengi dengan istirahat dan asupan nutrisi yang cukup. Tanpa diobati pun, penyakit flu akan sembuh sendiri.

Jika flu ini disertai demam, maka orang tua cenderung mencari pegobatan untuk segera menurunkan panas. Demam diidentikkan dengan penyakit, sehingga saat demam berhasil diturunkan, orangtua merasa lega karena menganggap penyakit akan segera pergi bersama turunnya panas badan. Keinginan untuk menenangkan kegelisahan orang tua inilah yang terkadang “memaksa” dokter memberikan obat penurun panas walaupun sebenarnya mungkin tidak perlu.

termoDefinisi demam itu sendiri adalah keadaan suhu tubuh di atas suhu normal, yaitu suhu tubuh di atas 38 0C. Suhu tubuh dapat diukur mealui mulut, dubur, dan ketiak. Cara pengukuran suhu menentukan tinggi rendahnya suhu tubuh. Pengukuran suhu melalui mulut dilakukan dengan cara mengulum termometer di dalam mulut, hal ini dilakukan pada anak yang dapat diajak bekerjasama. Hasilnya hampir sama dengan suhu dubur, namun bisa lebih rendah bila frekuensi napas cepat. Pengukuran suhu d ubur dengan memasukkan termometer ke dalam dubur sedalam 2-3 cm dan kedua pantat dikatupkan, pengukuran dilakukan selama 3 menit. Suhu yang terukur adalah suhu tubuh yang mendekati suhu yang sesungguhnya (core temperature). Dikatakan demam bila suhu di atas 380C.

Pengukuran suhu melalui ketiak hanya dapat dilakukan pada anak besar mempunyai daerah aksila cukup lebar, pada anak kecil ketiaknya sempit sehingga terpengaruh suhu luar. Pastikan puncak ujung termometer tepat pada tengah aksila. Hasil pengukuran aksila akan lebih rendah 0,5-1,0 0C dibandingkan dengan hasil pengukuran melalui dubur. Pengukuran suhu dengan cara meraba kulit, daerah yang diraba adalah daerah yang pembuluh darahnya banyak seperti di daerah pipi, dahi, tengkuk. Meskipun cara ini kurang akurat (tergantung kondisi tangan ibu), namun perabaan ibu cukup dapat dipercaya.

Apakah memberikan obat penurun panas ketika anak demam merupakan suatu hal yang salah? Bukankah bila

demam tidak diturunkan akan menimbulkan kerusakan pada otak? Bukankah pemberian obat penurun panas menyebabkan anak terhindar dari kejang demam (stuip), membuat anak merasa lebih nyaman dan meningkatkan nafsu makan? Hal-hal seperti itulah yang sering terdengar mengenai demam dan banyak didengung-dengungkan di berbagai media iklan. Alhasil demam semakin menjadi momok yang menakutkan bagi orang tua, dan memperkuat keyakinan orangtua untuk buru-buru menurunkan panas ketika anak demam.

Namun sesungguhnya para ahli menyatakan bahwa pendapat-pendapat tersebut hanyalah mitos belaka karena tidak semua dapat dibuktikan kebenarannya. Keberadaan demam justru berperan penting dalam proses penyembuhan penyakit. Bahkan pemberian obat penurun panas ketika anak demam (baik aspirin, paracetamol/acetaminophen maupun ibuprofen) terbukti lebih banyak menimbulkan dampak negatif ketimbang positif. Demam merupakan reaksi alamiah tubuh terhadap adanya infeksi. Sehingga ketika seorang anak mengalami infeksi, keberadaan demam semestinya disyukuri, bukan ditakuti atau diperangi karena hal ini merupakan pertanda bahwa mekanisme pertahanan tubuh sedang bekerja untuk melawan penyakit. Artinya, menurunkan suhu tubuh ketika anak demam justru akan melemahkan sistem pertahanan tubuhnya. Demam memang tidak hanya dapat disebabkan oleh infeksi, bisa saja terjadi karena pencetus lain seperti reaksi transfusi, tumor, imunisasi, dehidrasi, dan lain sebagainya. Tetapi pada anak umumnya demam terjadi karena suatu infeksi kuman, entah itu virus maupun bakteri.

Asumsi yang juga sangat diyakini orang tua adalah pernyataan bahwa obat penurun panas akan menyebabkan anak merasa lebih baik, lebih aktif dan meningkatkan nafsu makan. Padahal penelitian membuktikan bahwa tidak ada perbedaan efek yang tampak ketika penderita demam diberi obat penurun panas maupun placebo (sugesti). Jadi tidak dapat dibedakan apakah keadaan lebih baik yang dirasakan penderita sebetulnya merupakan efek placebo atau efek obat. Fakta lain yang lebih penting menginformasikan bahwa obat penurun panas dapat memberikan gejala palsu. Penderita demam yang disangka sedang dalam masa penyembuhan karena panasnya sudah turun, ternyata luput dari pengamatan dan mengakibatkan penyakitnya berlanjut semakin buruk akibat pemberian obat penurun panas.

Selain itu demam yang terjadi karena infeksi selain infeksi di otak, pada umumnya tidak akan menyebabkan kerusakan otak itu sendiri ataupun kerusakan fisik permanen seperti anggapan yang telah dianut selama ini. Demam adalah hal yang biasa terjadi pada anak dan bukan merupakan suatu indikasi penyakit serius kecuali bila disertai dengan perubahan tingkah laku atau gejala-gejala tambahan seperti kesulitan bernafas, kaku kuduk atau kehilangan kesadaran. Hanya demam di atas 42,2 0C yang telah diketahui dapat menyebabkan kerusakan otak.

Namun tentu saja terdapat perkecualian, yaitu bila demam terjadi pada bayi yang baru lahir. Demam yang terjadi pada bayi di minggu-minggu pertama kehidupannya harus mendapatkan perhatian serius, karena kemungkinan besar infeksi didapat dari proses persalinan, ataupun penyebab lain. Juga pada anak dengan riwayat kejang demam sebelumnya, ataupun kejang demam dalam keluarga, demam harus diwaspadai. Walaupun kejadian kejang pada anak demam hanya sekitar 4%.

Kasus lain yang sering terjadi, contohnya adalah penggunaan antibiotik untuk penyakit common cold pada bayi dan anak-anak. Penyakit ini 95% disebabkan oleh virus, sehingga pemberian antibiotik tak ada gunanya. Antibiotik hanya diperlukan bagi penyakit-penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Penyakit ini sangat umum terjadi pada anak-anak. Bahkan menurut penelitian, dalam setahun seorang anak bisa menderita flu atau common colds sebanyak 8 hingga 12 kali. Dan itu merupakan hal yang normal. Tentu saja ada pengecualian, yaitu bagi bayi-bayi yang berusia di bawah 3 bulan. Pada bayi-bayi ini, gejala flu atau common cold malah bisa berkembang dengan cepat menjadi penyakit yang serius seperti bronchiolitis atau pneumonia. Karena itu, untuk bayi berusia di bawah 3 bulan, penyakit batuk pilek biasa tetap perlu mendapat perhatian khusus.

Penyakit ini biasanya akan berlangsung selama 1 sampai 2 minggu. Gejala yang menyertai flu atau common cold seperti demam, bersin, batuk, pilek yang tak henti-henti memang kadang tampak mengkhawatirkan. Apalagi bila anak mengalami batuk tak henti-hentinya disertai muntah. Tak heran bila akhirnya orang tua membawa anaknya ke dokter karena cemas. Parahnya, kecemasan tersebut kerap mengakibatkan orang tua meminta dokter memberikan antibiotik kepada anak-anaknya.

American Academy of Pediatrics (AAP) menegaskan, tidak ada obat untuk kasus ini. Antibiotik tidak boleh diberikan karena tidak akan berefek apapun. Perhatian dan kasih sayang dari orang tua lah yang merupakan obat terbaik. Sehingga AAP menganjurkan agar orang tua cukup menciptakan kondisi yang paling nyaman bagi anak. Hidung mampet yang biasanya diderita anak akan menyebabkan anak bernafas lewat mulut. Akibatnya mulut dan tenggorokan anak menjadi kering. Untuk itu anak perlu diberi banyak jus buah-buahan dan cairan, sedikit tak apa asalkan sering. Dalam keadaan sakit, umumnya anak akan kehilangan nafsu makan. Walaupun hanya sedikit makanan yang masuk, tapi yakinkan bahwa kebutuhan makan mereka tercukupi.

Air garam steril bisa diberikan sebagai tetes hidung, agar ingus menjadi encer dan tidak lagi menyumbat jalan napas. Air garam steril ini tidak akan menimbulkan efek samping. Menghirup uap air panas juga akan meringankan keluhan flu pada anak. Cara lainnya, bila anak tak dapat tidur di malam hari karena hidung tersumbat, orangtua dapat memberikan tetes hidung (breathy) untuk menghilangkan pembengkakan di dalam hidung. AC ruangan pun perlu dimatikan. Kalau perlu setelah anak tidur, letakkan satu ember berisi air mendidih untuk menjaga agar udara ruangan tidak kering.

buahBerikan minum lebih banyak untuk mengencerkan lendir di tenggorokannya. Berikan obat batuk yang bersifat mengencerkan dahak, hindari obat batuk yang bersifat menekan batuk karena menghambat lendir yang akan keluar. Padahal, ada bahaya yang mengancam di balik itu. Lendir bukannya hilang tetapi tertekan dan menggumpal di saluran pernapasan." Bahayanya, lendir itu dapat menjadi media pertumbuhan kuman yang kemudian masuk ke paru-paru dan menyebabkan radang paru. Sedangkan jika naik ke kuping bisa menyebabkan congekan. Jadi, semua lendir yang merupakan reaksi pertahanan tubuh terhadap penyakit seharusnya dikeluarkan dengan cara-cara lain yang lebih tepat, bukan ditahan atau ditekan.

 

imagesLangkah terbaik untuk pencegah tertularnya penyakit ini adalah dengan mencuci tangan sesering mungkin, dan sebisa mungkin menghindari penderita flu. Namun bila demam anak tak kunjung turun setelah lebih dari 3 hari (72 jam), orangtua perlu mengunjungi dokter. Selain itu bila terdapat gejala sesak napas, kuku dan bibir tampak biru, anak menjadi luar biasa rewel atau sangat mengantuk hingga tak bisa dibangunkan, orang tua juga harus segera membawa anaknya ke dokter.

Orang tua berhak mengajukan pertanyaan kepada dokter tentang penyakit yang diderita anak, apa penyebabnya, dan bagaimana tata laksananya. Pertanyaan seputar obat dan efek samping obat juga perlu diketahui agar anak tak jadi korban kesalahan pengobatan yang tidak rasional. Dokter yang informatif dan rela menyediakan waktu, demi memberikan pengetahuan yang benar kepada pasien pun sungguh diperlukan. Kerjasama antara pasien yang aktif dan dokter yang informatif semacam inilah yang setidaknya akan membantu keberhasilan pengobatan rasional di Indonesia.

Referensi

1. Abdoerrachman MH. Demam: Patogenesis dan pengobatan. Dalam: Soedarmo SSP, Garna H, Hadineggoro SRS, editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak: Infeksi dan Penyakit Tropis. Edisi ke-1. 2002. Jakarta:Balai Penerbit FKUI;Hal.27-51.

2. Center for Disease Control and Prevention. Seasonal Influenza (Flu). http://www.cdc.gov/flu/about/qa/coldflu.htm. Diunduh pada tanggal 14 Juni 2011.

3. Kliegman RM, Behrman RE. Fever. Dalam: Behrman RE, Kliegman RM, Nelson WE, Vaughn VC, penyunting. Nelson textbook of pediatrics. Edisi ke-17. 1992. Philadelphia: WB Saunders;Hal.647-56. 

4. Merdjani A. Influenza. Dalam: Soedarmo SSP, Garna H, Hadineggoro SRS, editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak: Infeksi dan Penyakit Tropis. Edisi ke-1. 2002. Jakarta:Balai Penerbit FKUI;Hal.124-45.

5. Stephenson A, Mueller M. Cough. Dalam: Rees PJ, editor. 100 Cases in General Practices. 2009. London: Hodder Arnold;Hal. 59-60.

 

Diterbitkan oleh: Majalah Anakku

10 comments:

  1. Terus kalo anak demam lebih 39 derajat. Tidak perlu dikasih Paracetamol?. Lantas dikasih apa?.
    Saya masih ragu kalau seorang bayi lebih dari 38 derajat terus "dibiarkan" dengan tanpa memberikan penurun panas,bagaimana kalo kemungkinan terjadi kejang demam????.Bukankah salah satu faktor risiko Epilepesi itu adalah kejadian kejang demam waktu bayi???.Apa gak lebih kompliketid??

    ReplyDelete
  2. Yah liat juga kondisi anaknya lah, kalu demam memang membuat anak tdk nyaman dan tidak bisa tidur (istirahat), penurun panas memang perlu diberikan. Atau jika anak tersebut memang punya risiko kejang demam, seperti riw. keluarga (kakek/nenek,ortu, kakak/adik) kejang demam, atau riw. kejang demam sebelumnya, itu tentu hal yang brbeda, panas harus segera diturunkn.
    Cukup dikasih air putih aja biar ga dehidrasi, dan buat nurunin panas.
    Kejang demam yang jadi faktor risiko epilepsi itu kejang demam yang kompleks (> 15 menit, berulang dalam 24 jam,kejang fokal dll)
    Semuanya itu kita lihat juga dari tingkat pendidikan ortunya..=D

    ReplyDelete
    Replies
    1. pendidikan saya cuma sampe SMA,,tapi insyaAllah saya tau mengatsi demam,batuk,pilek anak saya selama ini....belajar kan tidak perlu hanya waktu di sekolah saja,lewat media seperti ini pun kita bisa belajar juga...jadi menurut saya tingkat pendidikan orang tua tidak selalu jadi patokan!!!malah saya pernah baca,seorang ibu yg notabene dia adalah dokter umum tinggal di Belanda,baru tau kalo batuk pilek yang disertai demam itu tidak perlu diberi antibiotik yang justru malah keliru.....

      Delete
  3. jahat banget sih ini yang comment...

    ReplyDelete
  4. aneh yg komen satu sama lainnya g pada nyambung

    ReplyDelete
  5. Makasih ya Min artikelnya menarik bgt :) semoga bermanfaat :) :) :)

    ReplyDelete
  6. buibu,, setelah byk artikel bermanfaat di atas, lanjutkan belajarnya.. ga percaya sama blog ini, cari di web yg bs lbh dipercaya silahkan bgt,buka mayoclinic, kidshealth, dll. jd bs tau lbh jelas, kapan penurun panas dibutuhkan, dan jd tau jg klu kejang demam ga bs di cegah, epilepsi ga da hub dgn kejang demam.. yuk belajar yuk.. klu keterbatasan dgn link berbahasa inggris, bs bgt join milissehat, atau buka web nya jg boleh www.milissehat.web.id smua dlm bahasa indonesia, bersumber dr link yg bs dipercaya, disusun jg oleh dokter2 yg kompeten mengedepankan RUM dan patient's safety

    ReplyDelete
  7. Wah artikel yg bagus nih, bisa buat jaga2 nanti kalo anak lagi demam. Sebagai ibu muda yg harus merawat anak, juga harus merawat diri juga kan merawat diri itu memang dibutuhkan wanita, apalagi untuk wanita berhijab. Padahal Sebenarnya aq dulu risih juga kalo pake hijab, tapi ketika pakai hijab dari PRODUSEN MUKENA KATUN JEPANG. saya malah lebih suka karena mukenanya nyaman, lembut dan adem. Makasih ya mbak udah berbagi tips dan ceritanya...

    ReplyDelete
  8. Hidung mampet menghilangkannya mudah sekali, bisa menggunakan air panas, dan bisa gunakan sambil minum, atau uap dari air panas tersebut. Dan tentunya sebaiknya istirahat dulu bila memungkinkan, apa lagi hindari dari sinar-sinar smartphone, bisa-bisa tambah pusing.

    ReplyDelete